FKTI Pertanyakan Keangotaan KONI

Jakarta – Ketua Dewan Ahli Majelis Karate Tradisional Indonesia, Koes Pratomo Wongsojudo, mempertanyakan sikap KONI Pusat yang belum memasukkan Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) menjadi anggota KONI. Padahal, FKTI sudah “melamar” sejak tahun 2004.

Undang-Undang Olahraga Pasal 47 menyebutkan, organisasi olahraga apa pun berhak menjadi anggota KONI Pusat asal memenuhi syarat , natara lain merupakan badan usaha, memiliki NPWP, memiliki AD/ ART dan memiliki program kerja. Kami sudah memiliki semuanya, tapi mengapa kami belum juga dimasukkan sebagai anggota?” Tanya Koes Pratomo dalam siaran persnya yang diterima “SH” Kamis (27/11).

Menurutnya, FKTI tidak mengemis untuk menjadi anggota KONI Pusat karena semua sudah diatur dalam UU Olahraga. Bilamana KONI enggan menerima keanggotaan FKTI, hal ini justru menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, FKTI adalah Pengda-Pengda, bukan perguruan-perguruan.

FKTI merupakan anggta Federasi Karate Tradisional Dunia yang dipimpin Ketua Umum FKTI Sabeth Muchsin, yang juga Ketua Karate Tradisional Asia – Oceania dan menjadi salah satu pengurus paling senior. Dikuatirkan, FTI tidak bias menggelar kejuaraan dunia karate tradisional bila belum menjadi anggota KONI. Meski belum diakui KONI, FKTI tetap menggelar kejuaraan daerah, kejuaraan nasional dan kenaikan tingkat (gashuku secara rotin). Lulusan FKTI banyak yang menjadi karateka nasional karena kehalusan teknik dan kedisiplinannya.

Verifikasi

Sementara itu dalam kesempatan bereda, Ketua Komisi Hukum KONI Pusat Umbu S. Samapatty mengatakan, surat dari FKTI sudah diterima dan telah diarahkan (disposisi) ke bagiannua. Saat ini, bidang hokum dan organisasi KONI Pusat tengah melauan verifikasi persyaratan untuk menjadi anggota.

Pada prinsipnya, KONI tidak menghambat olahraga manapun untuk menjadi anggota. KONI menyambut baik setiap olahraga demi memperkaya dan memajukan olahraga nasional. Namun demikian, semuanya harus disesuaikan denga AD/ART KONI terlebih dahulu,” komentar Umbu kepada SH, Jumat (28/11). Ia juga berharap pihak FKTI meminta saran dan pendapat dari Pengurus Besar Federasi Olah Raga Karate-do Indonesia, berkenaan dengan niatan menjadi anggota KONI.