FKTI Terpasung di Pintu Gerbang KON/KOI

JAKARTA (Suara Karya): Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional masih jelan di tempat sehingga FKTI (Federasi Karate Tradisional Indonesia) masih terpasung samapi sekarang di puntu gerbang KONI Pusat (KON/KOI). Seharusnya FKTI sudah diterima menjadi anggota KON/KOI sesuai perintah UU 3/2005 yang sudah dilengkapi dan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan Keolahragaan sebagai induk organisasi cabang olahraga prestasi.

Tapi KONI (KON/KOI—Red), pura-pura tidak tahu permasalahan ini. FKTI dibenturkan dengan Forki dengan mengatakan karate tradisional adalah olahraga sejenis denga karate Forki,” kata Ketua Dewan Akhli Karate Tradisional, Kespratowo Wongsoyudho dalam acara Evaluasi Karate Tradisional 2008.

Menurut Koes, KON/KOI seharusnya tahuj bahwa di dunia ini ada dua jenis karate yang berbeda, karate tradisional yang dianut FKTI dan karate umum yang dianut Forki. Pendefinisian dua jenis karate yang berbeda ini dari IOC sendiri. Sejak karate terbelah menjadi dua, FKTI yang berafliasi ke ITKF (International Traditional Karate Federation) sudah mengajukan permohonan menjadi anggota KN/KOI. Dan itu diakui oleh KON/KOI sendiri.

Tapi dengan membernturkan FKTI ke Forki yang disebut KON/KOI sebagai lahraga sejenis, itu merupakan sikap yang sangat tidak terpuji. Sebagai cerminan ketidakmampuan KON/KOI menjalankan UU No 3 Tahun 2005.

Kami tidak urusan dengan Forki. Kami dua organisasi yang berbeda yang hidup berdampingan dengan damai. Keputusan untuk menerima kami sebaagi anggota KON./KOI ada di tangan pimpinan KON/KOI sendiri yang mutklah harus dijalankan karena perintah Undang Undang Tidak menerima FKTI berarti KON/KOI melawan Undang Undang yang berarti pula melecehkan penyelenggaraan Negara, DPR, menegpora sebagai atasan langsung KON/KOI dan masyarakat olahraga Indonesia. Kami tidak akan menjadi peminta minta untuk masuk KON/KOI karena kami mengacu pada Undang undang.” Ujar Koes.

Perbedaan antara karate tradisional dengan karater umum ibarat air dengan minyak. Karate tradisional sudah mengacu ke Piagam Olimpiade sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan dan telah memiliki karakteristik serta jenis pertandingan yang memberi ciri karate tradisional sebagai cabang olahraga. FKTI beranggotakan pengurus daerah dan pengurus cabang Aliran dan pengurus tidak dimasukkan menjadi anggota FKTI karena berlawanan dengan Piagam Olimpiade.

Lebih jauh tokoh karate tradisional itu menegaskan, pemerintah dalam hal ini Kantor Kementerian Pemula dan Olahraga sudah menerima FKTI. FKTI setiap tahun menggelar kejuaraan nasional dengan memperbutkan Piala Menpora, dan sudah 13 kali mengikuti ke juaraan dunia.