Karate Tradisional Rapatkan Barisan

MESKI keberadaanya belum diakui KONI Pusat, Federasi Karate TradisionalIndonesia (FKTI) terus membina karatekanya. Pada 24-25 Januari nanti, FKTI bakal menggelar kejuaraan nasional junior dan usia dini, di Gedung Senam, Jakarta Timur.

Ini bagian dari pembibitan yang terus kami galakan,”kata Presiden FKTI, Sabeth Mukhsin di Jakarta, kemarin.

Ada beberapa nomor yang dipertandingakan pada Kejumas memperbutkan Piala Secom dan Gubernur ini. Di antaranya nomor fukugo (kombinasi), kata (jurus), kumite(tarung bebas), enbu (peragaan), dan koogo kumite. “Untuk yunior kita batasi 13 samapai 18 tahun, untuk usia dini 9-12 tahun,” terang Mukhisin lagi.

Hingga kini sudah 13 koordinator daerah (Korda) yang dipastikan ikut, dari 24 Korda di seluruh Indonesia. “Banyak kendala kenapa ada Korda yang tidak ikut. Di samping soal dana, juga keberadaan kami yang belum diakui KONI Pusat. Ini memang sangat menggangu dalam pembinaan,” tambahnya.

Hingga kini, FKTI memang belum masuk anggota KONI Pusat. Padahal, semua persyatan federasi yang punya anggota hampir 20 ribu di seluruh Indonesia itu sudah terpenuhi semua. Bahkan, beberapa kali, pihaknya bertemu pimpinana KONI, tapi hinnga kini belum ada kepastian.

Kita sudah berbadan hukum dan punya NPWP. Sementara yang lain ada yang tidak berbadan hukum. Kami juga sudah diakui Menpora. Jadi kami tidak mengerti kenapa belum masuk anggota KONI,” sesal tokoh yang dikenal sebagi salah satu pendiri karateka tradisional Indonesia tersebut.

Dijelaskan Sabeth Mukhsin, pihaknya mendengar salah satu kendala FKTI belum diterima karena di KONI sudah ada Forki (Federasi Karate Indonesia). Tapi katanya, Forki dan FKTI itu, dua organisasi yang berbeda.

IOC, Komite Olimpiade Internasional mengakui ada dua karate. Tidak bisa kami disatukan. Karena seluruh aturan mainnya berbeda. Ini yang mungkin belum dipahami oleh KONI,” terang Mukhsin.