PENOLAKAN KARATE DI OLYMPIADE BISA DIPAHAMI

Jakarta, Presiden International Olympic Committee (IOC) Jacques Rogge baru saja mengumumkan di Berlin, Kamis (13/8), tentang kemungkinan diterimanya golf dan ruby sebagai cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Olympiade Berlin 2006. Untuk memberi tempat pada golf dan ruby, IOC mencoret softball dan baseball dari Olympiade 2016.
Bersama dengan itu, IOC menolak masuknya karate ,Squash, dan sepatu roda dipertandingkan di Olympiade. Penolakan tersebut sama sekali tidak mengejutkan Ketua Federasi Karate Tradisional Indonesia ( FKTI ) dan juga ketua Federasi Karate Tradisional Asia Pasifik, Sabeth Mukhsin.
“Penolakan IOC terhadap karate bisa dimengerti. Ada tiga hal yang membuat karate sulit diterima. Pertama, karate masih berafialiasi pada aliran aliran atau perguruan-perguruan. Pada hal, IOC ingin karate punya sebuah disiplin standard yang bisa menyatukan perguruan-perguruan. Walaupun karate punya banyak penggemar diseluruh dunia,sepanjang karate masih berafiliasi pada perguruan-perguruan, maka karate sulit diterima. Karate harus mencontoh judo, yang terbebas dari pengaruh perguruan sehingga bisa diterima dan dipertandingkan di Olympiade” Kata Sabeth kepada SH dan Koran Tempo di Jakarta ( 14/8).
Menurut dia, Setiap perguruan memiliki sistim pembinaan dan sistim penilaian sendiri-sendiri “ Yang dikehendaki IOC karate menjadi sebuah cabang olahraga universal, disiplion, punya satu sistim pembinaan ,sistim penjurian, sistim organisasi dan yang terpenting menjamin keselamatan atlitnya “.
Kedua, Lanjut Sabeth, IOC sudah melakukan pendekatan pada dua badan karate dunia,ITKF (International Traditional Karate Federation )dan WUKO (World Union Karate Organziation). Namun, Kedua badan tersebut tidak mau menyatu. Pasalnya filosofi mereka juga berbeda. Karate Tradisional berdasarkan fisolofi latihan serius dan rendah hati, sedangkan karate umum (WUKO) mendasarkan latihan pada Fun ( senang-senang).
Ketiga, Karakter kedua badan karate itu berbeda. Karakter karate Tradisional lebih kuat tapi telah “Dimanipulasi” oleh WUKO seolah-olah karate Tradisional tidak memiliki rumput yang kuat. “ Kalau mau jujur, karate tradisional lebih pantas dipertandingkan di Olympiade. Pasalnya FKTI mendaftarkan dirinya pada Olympic Charter ( Piagam Olympiade) dan undang – undang RI N0 3 Tahun 2005 tentang SKN ( Sistem Keolahragaan Nasional ) Namun , kenyataanya FKTI justru diredam oleh Pengurus Besar ( PB Forki) dan KONI.
“Empat puluh tahun kami berjuang agar karate Tradisional diakui dan dijadikan cabang olahraga, tapi setelah UU ini keluar, pemerintah tidak serius melaksanakannya. Kalau mau jujur , pemerintah harus menjatuhkan sanksi terhadap terhadap KONI dan FORKI. Pasalnya kedua lembaga ini tidak memiliki badan hukum sebagaimana diatur dalam undang-undang ,”kata laki-laki yang menjadi perintis masuknya karate ke Indonesia bersama Wonosarwono, Koespratomo, A.Siswanto, Oloan Siahan ( suami Miranda Gultom) dan Suwito pada tahun ‘60an (ins). Sbr : SINAR HARAPAN