free counters
September 26, 2009
Filed Under (Berita Karate) by sempai

Jakarta, Presiden International Olympic Committee (IOC) Jacques Rogge baru saja mengumumkan di Berlin, Kamis (13/8), tentang kemungkinan diterimanya golf dan ruby sebagai cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Olympiade Berlin 2006. Untuk memberi tempat pada golf dan ruby, IOC mencoret softball dan baseball dari Olympiade 2016.
Bersama dengan itu, IOC menolak masuknya karate ,Squash, dan sepatu roda dipertandingkan di Olympiade. Penolakan tersebut sama sekali tidak mengejutkan Ketua Federasi Karate Tradisional Indonesia ( FKTI ) dan juga ketua Federasi Karate Tradisional Asia Pasifik, Sabeth Mukhsin.
“Penolakan IOC terhadap karate bisa dimengerti. Ada tiga hal yang membuat karate sulit diterima. Pertama, karate masih berafialiasi pada aliran aliran atau perguruan-perguruan. Pada hal, IOC ingin karate punya sebuah disiplin standard yang bisa menyatukan perguruan-perguruan. Walaupun karate punya banyak penggemar diseluruh dunia,sepanjang karate masih berafiliasi pada perguruan-perguruan, maka karate sulit diterima. Karate harus mencontoh judo, yang terbebas dari pengaruh perguruan sehingga bisa diterima dan dipertandingkan di Olympiade” Kata Sabeth kepada SH dan Koran Tempo di Jakarta ( 14/8).
Menurut dia, Setiap perguruan memiliki sistim pembinaan dan sistim penilaian sendiri-sendiri “ Yang dikehendaki IOC karate menjadi sebuah cabang olahraga universal, disiplion, punya satu sistim pembinaan ,sistim penjurian, sistim organisasi dan yang terpenting menjamin keselamatan atlitnya “.
Kedua, Lanjut Sabeth, IOC sudah melakukan pendekatan pada dua badan karate dunia,ITKF (International Traditional Karate Federation )dan WUKO (World Union Karate Organziation). Namun, Kedua badan tersebut tidak mau menyatu. Pasalnya filosofi mereka juga berbeda. Karate Tradisional berdasarkan fisolofi latihan serius dan rendah hati, sedangkan karate umum (WUKO) mendasarkan latihan pada Fun ( senang-senang).
Ketiga, Karakter kedua badan karate itu berbeda. Karakter karate Tradisional lebih kuat tapi telah “Dimanipulasi” oleh WUKO seolah-olah karate Tradisional tidak memiliki rumput yang kuat. “ Kalau mau jujur, karate tradisional lebih pantas dipertandingkan di Olympiade. Pasalnya FKTI mendaftarkan dirinya pada Olympic Charter ( Piagam Olympiade) dan undang – undang RI N0 3 Tahun 2005 tentang SKN ( Sistem Keolahragaan Nasional ) Namun , kenyataanya FKTI justru diredam oleh Pengurus Besar ( PB Forki) dan KONI.
“Empat puluh tahun kami berjuang agar karate Tradisional diakui dan dijadikan cabang olahraga, tapi setelah UU ini keluar, pemerintah tidak serius melaksanakannya. Kalau mau jujur , pemerintah harus menjatuhkan sanksi terhadap terhadap KONI dan FORKI. Pasalnya kedua lembaga ini tidak memiliki badan hukum sebagaimana diatur dalam undang-undang ,”kata laki-laki yang menjadi perintis masuknya karate ke Indonesia bersama Wonosarwono, Koespratomo, A.Siswanto, Oloan Siahan ( suami Miranda Gultom) dan Suwito pada tahun ‘60an (ins). Sbr : SINAR HARAPAN



March 23, 2009
Filed Under (Berita Karate) by sempai

Jatim berhasil menjadi jaura umum di Kejuaraan Nasional Junior dan Usia Dini Karate Tradisional Secom Cup II 2009 dan Gubernur II 2009 di Gedung Senam Raden Inten, Jakarta Timur, 24-25 Januari.

Kemenangan Jatim ini menyingkirkan juara tahun lalu, Jateng. “Munculnya juara baru menunjukkan bahwa pembinaan di tiap-tiap koordinator daerah (korda) berjalan baik dan itulah yang terpenting. Jumlah peserta juga meningkat,” ujar Sekjen FKTI, R. Suparian.

Kejuaraan ini diikuti 13 korda, Jateng, Jatim, Jabar, DI Yogyakarta, Banten, DKI, Sumsei, Lampung, Kep.Riau, Kalsel, Kalteng, Sulteng, dan NTB, dengan 200 karateka. Mereka berlaga di nomor kumite, kata, fukugo, dan embu, yang merupakan nomor yang dipertandingkan tanpa kelas.

Empat medali emas membuat Jatim bertengger di puncak klasemen untuk tingkat usia dini (9-12 tahun). Tiga dari empat emas itu dipersembahan para karateka putri.

Sejak awal memang kami meriargetkan meraih emas di ajang ini. Akhirnya kami mampu mencapai targer tersebut. Berarti pembinaan usia dini yang kami lakukan sudah cukup baik,” tutr Bachtlar Effendy, manajer Jatim.

Pria yang akrab disapa Cecep ini menambahkan kemampuan karateka di tingkat usia dini cukup merata. Tapi, yang pasti semua atlet muda itu telah dilatih dan dididik untuk memiliki mental juara.

Bahkan di level junior (13-18 tahun) yang juga berhasil mengumpulkan empat emas, Jatim mempersiapkan para atletnya selama setahun.



March 23, 2009
Filed Under (Berita Karate) by sempai

Meski sudah berdiri sejak 1984 sebagai sebuah organisasi, Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) ssama sekali belum menjadi anggota KONI.

Kami tak permaslahkan menjadi anggota KONI atau tidak. Sejak dulu kami sudah memenuhi segala persyaratan untuk menjadi anggota, tapi KONI seakan-akan menutup mata dengan kondisi ini,” ujar R. Suparlan Sekjen FKTI.

Persyaratan itu antara lain merupakan badan hukum, memiliki NPWP, memiliki program kerja yang jelas, memiliki AD/ART, memiliki struktur organisasi, dan tergabung di dalam kenaggotaan internasional, untuk FKTI adalah ITXF.

Bahkan Ketua Umum FKTI.sabeth Muchsin, juga menjadi salah satu Direktur Karate Tradisional Asia-Oseania yang sekaligus menjadi salah satu pengurus senior dalam organisasi itu.

Jika disesuaikan degan Undang-Undang Sistem Keolah ragaan Nasional No.3 Tahun 2005, memeang sewajarnya FKTI menjadi anggota KONI.

Namum, permohonan yang disampaikan FKTI sejak beberapa bulan itu belum ada hasilnya hingga saat ini. Malah KONI tetap berkelit dengan anggapan bahwa semuanya harus disesuaikan dengan AD/ART KONI.

Tapi, yang lebih mengkhawatirkan adalah FKTI mungkin tak bisa menggelar kejuaraan dunia karate tradisional jika belum menjadi anggota KONI.meskipun demikian, FKTI tetap menggelar kejuaraan nasional, daerah, dan kenaikan tingkat secara rutin.

Sebenarnya kami tak memerlukan pengkuan karena selama ini sudah eksis. Tapi, inilah kewajiban KONI untuk mendaftarkan seluruh cabang yang ada dan seharusnya mereka yang mengundang kami,” tutur Suparlan.



March 23, 2009
Filed Under (Berita Karate) by sempai

JAKARTA – Kejuaraan Nasional Junior Karate Tradisional Secom Cup II dan Gubernur Cup II, yang di gelar di Gedung Cup II, yang digelar di Gedung Senam Raden Inten, Jakarta Timur, 24 dan 25 Januari mendatang, membuktikan bahwa keberadaan karate tradisional tidak diragukan lagi, terutama di daerah. “Sekarang keluhan-keluhan dari daerah sudah jauh berkurang, mereka tidak dihambat lagi,”kata R. Suparlan, Sekretaris Jenderal Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) kepada wartawan kemarin.

Menurut suparlan, daerah-daerah saat ini sudah memperlihatkan tekad membina karate tradisional serta mendukung perngurus pusat FKTI, yang terus berjuang menjadi anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). “Hanya, perjuangannya berbeda. FKTI tak ngotot lagi seperti dulu.”

Lebih jauh Suparlan mengatakan, pengurus FKTI tak lagi berjuang habis-habisan untuk diaui sebagai anggota dari induk organisasi olahraga di Tanah Air itu. FKTI hanya mendaftar ke KONI. Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 16 tentang.Penyelenggaraan Olahraga jelas disebutkan bahwa induk organisasi olahraga dibentuk oleh masyarakat serta punya akta pendirian dan nomor pokok wajib pajak. “FKTI sudah lama memilikinya jauh sebelum undang-undang itu keluar,” kata Suparlan.



March 23, 2009
Filed Under (Berita Karate) by sempai

MESKI keberadaanya belum diakui KONI Pusat, Federasi Karate TradisionalIndonesia (FKTI) terus membina karatekanya. Pada 24-25 Januari nanti, FKTI bakal menggelar kejuaraan nasional junior dan usia dini, di Gedung Senam, Jakarta Timur.

Ini bagian dari pembibitan yang terus kami galakan,”kata Presiden FKTI, Sabeth Mukhsin di Jakarta, kemarin.

Ada beberapa nomor yang dipertandingakan pada Kejumas memperbutkan Piala Secom dan Gubernur ini. Di antaranya nomor fukugo (kombinasi), kata (jurus), kumite(tarung bebas), enbu (peragaan), dan koogo kumite. “Untuk yunior kita batasi 13 samapai 18 tahun, untuk usia dini 9-12 tahun,” terang Mukhisin lagi.

Hingga kini sudah 13 koordinator daerah (Korda) yang dipastikan ikut, dari 24 Korda di seluruh Indonesia. “Banyak kendala kenapa ada Korda yang tidak ikut. Di samping soal dana, juga keberadaan kami yang belum diakui KONI Pusat. Ini memang sangat menggangu dalam pembinaan,” tambahnya.

Hingga kini, FKTI memang belum masuk anggota KONI Pusat. Padahal, semua persyatan federasi yang punya anggota hampir 20 ribu di seluruh Indonesia itu sudah terpenuhi semua. Bahkan, beberapa kali, pihaknya bertemu pimpinana KONI, tapi hinnga kini belum ada kepastian.

Kita sudah berbadan hukum dan punya NPWP. Sementara yang lain ada yang tidak berbadan hukum. Kami juga sudah diakui Menpora. Jadi kami tidak mengerti kenapa belum masuk anggota KONI,” sesal tokoh yang dikenal sebagi salah satu pendiri karateka tradisional Indonesia tersebut.

Dijelaskan Sabeth Mukhsin, pihaknya mendengar salah satu kendala FKTI belum diterima karena di KONI sudah ada Forki (Federasi Karate Indonesia). Tapi katanya, Forki dan FKTI itu, dua organisasi yang berbeda.

IOC, Komite Olimpiade Internasional mengakui ada dua karate. Tidak bisa kami disatukan. Karena seluruh aturan mainnya berbeda. Ini yang mungkin belum dipahami oleh KONI,” terang Mukhsin.